RSS Feed

India, Living My Dream

Posted on

Sesungguhnya telat banget sih gw ngepost ini sekarang, berhubung uda hampir sebulan gw tinggal di India. Tapi karena kata orang lebih baik telat daripada enggak sama sekali, ya sudahlah, biarkan aku mengepost ini dengan tenang yah.

Gw inget waktu itu gw masih anak piyik, mungkin SD, mungkin TK, gak inget pasti. Yang jelas, suatu kali gw ditawarin untuk pergi ke Prancis sama Pakde-Bude gw buat nengokin kakak sepupu yang lagi kuliah di sana. Cuman berhubung gw masih berbentuk anak-polos-imut-ngga-banyak-gaya yang gak pengen jauh-jauh dari Mak-Bapak gw, gw menolak ajakan ituh.

Kira2 gw dulu begini bentukannya.

Gw masih bisa mengingat gimana orang sekitar gw menyayangkan, “Kenapa nggak mau?! Sayang lhooo! Prancis kan bagus! Kamu bisa jalan-jalan…” Belakangan, walaupun gw memang lebih pengen tinggal di rumah, tak dapat dihindarkan, gw pun menyesali keputusan itu. Dan sejak saat itu, gw terobsesi untuk bisa pergi ke luar negeri. Sayangnya, selama kira-kira 20 tahun ke depannya, obsesi tinggal obsesi. Hiks. I watched how my friends and colleagues traveled abroad either to have some vacations, to study, to do their jobs, or even to get married and move there. Tinggal gw mengamat-ngamati mereka dari jauh dengan tatapan ingin dan mulut penuh ileran.

Hingga akhirnya setahun apa dua tahun lalu, gw kebetulan ngeliat ada kesempatan buat pegawai di kantor gw untuk ngikutin kursus di India. Pertama gw liat pengumumannya, eh buset! Topik yang ditawarin kok ya kursus web-design, IT, pokoknya menurut gw, penting banget belajar begituan aja sampe ke India. Persyaratannya aja gampang banget, cuman butuh usaha aja buat ngumpulin dokumen-dokumennya. Dari yang awalnya gw mikir “Meh!”, pelan-pelan gw berubah pikiran, “Hem…” Belum lagi waktu salah seorang rekan garis miring atasan di kantor juga ikut pergi ke sana untuk ikut kursus tentang… Apa ya? Human Resource atau tentang Lingkungan ya? Ya itulah. Ga inget juga gw. Beliau bercerita dengan antusias tentang pengalamannya di India. Gimana beliau berinteraksi dengan orang-orang dari negara lain yang karakteristiknya aneh-aneh, gimana beliau harus beradaptasi dengan kondisi di India yang mirip-mirip sama kondisi Indonesia tapi lebih parah lagi. “Mbak, kalo ada kesempatan cobain aja. Itu pengalaman baru, apalagi kalo Mbak nggak pernah ninggalin rumah sama keluarga.”  Kebetulan orangnya emang sangat apresiatif dan antusias dalam bercerita sampe akhirnya semangat gw pun timbul dan menyala-nyala. “Oke! Begitu ada kesempatan, gw akan memastikan untuk ikut!” Begitulah sumpah suciku saat itu.

Tuh mata gw sampe berapi-api saking semangatnya

Kemudian, tahun lalu, kira-kira bulan September apa Oktober ya, pengumuman yang sama pun keluar lagi. Tawaran untuk belajar ke India tentang beberapa topik, salah satunya Bahasa Inggris. Berhubung gw (1) Masi merasa bodo dalam berbahasa Inggris (2) Perlu belajar berbahasa Inggris yang baik dan benar untuk menggapai cita-cita gw selanjutnya (3) Ngebet pengen jalan-jalan ke luar negeri, gw pun memasukkan aplikasi gw dengan super niat. Dari mulai ngambil tes TOEFL, bolak-balik ke kampus buat ngurusin terjemahan sama legalisiran ijazah, mintain tanda tangan dari bos-bos, pokonya apa gw kerjain deh. Di tengah jalan gw pake pesimis segala karena ga ada kabar dari Kedutaan Besar India padahal udah hampir tanggalnya, belum lagi ternyata saingannya banyak.

Pertengahan Januari, semangat gw kembali naik waktu dikabarin adanya perpindahan program kursus dan tau-tau aja gw dipanggil sama Kedubes India buat wawancara. Pas mau wawancara, gw tegang abis karena uda lama banget gak wawancara seleksi. Hehe. Pake bingung mau pake baju apa, rambut berantakan nggak, ke sananya naik apa. Udah tegang-tegang, pas masuk ke ruang pejabat Kedubesnya, namanya Mr.Gupta by the way, rada antiklimaks. Gw ngebayangnya dia wawancaranya bakal resmi, eh yang ada itu kayak dilakuin di sela-sela kerjaan rutin aja. Plus tampilan Mr.Gupta jauh dari bayangan gw tentang pewawancara resmi yang pake dasi dan jas. Dia cuma pake kemeja lengan pendek yang menunjukkan kesan ini-bukan-situasi-resmi-resmi-banget-lho. Dia cuma nanya-nanya soal keluarga, kerjaan, kerjaan keluarga gw. Gak sampe lima menit, dia lalu menutup wawancara, “Okay, we’ll send you there.” Huaaaahhhh!! Antara percaya nggak percaya, gw berapa kali merepet, “Thank you Sir, thank you.”

Eeehh… Ndilalah, ujiannya nggak selesai sampe di situ. Begitu mau ngurus-ngurus dokumen keberangkatan, ada lagi masalahnya. Kedubes baru ngasih surat pemberitahuan kira-kira 4 hari sebelum mulai kursus. Buset, gimana caranya mau ngurusin paspor dinas sama surat tugas dalam waktu segitu? Gw sudah cukup familiar dengan birokrasi PNS negeri tercinta lah untuk tau ngurus begituan ngga akan cukup dalam waktu seminggu. Thank God gw ngga sendirian waktu ngurus-ngurus itu berhubung gw pergi bertiga sama dua orang temen. Jadi seengganya kita bisa bareng-bareng membagi kesetresan waktu datengin Kedubes untuk minta ijin berangkat telat sama waktu datengin Kemenlu buat nungguin paspor kita diproses. Fuh, all I can say that if you have a dream or an obsession, you’d better work hard to achieve it.

Akhirnya tanggal 7 Februari 2012 pagi, gw bertiga dengan temen-temen gw, memasuki gerbang terminal 2 keberangkatan internasional di Soekarno-Hatta International Airport. We’re leaving the country for couple months… And here I am now, already living in India for a month, living in my own dream-comes-true.

It's India baby!!! Erm, itu India Gate ding namanya.

5 responses »

  1. Hai Ervandari,

    boleh tanya apa nama organisasi kursus bahasa Inggris yang kamu sedang ikutin di India? Terus prosedurnya bagaimana?

    Thanks ya 🙂

    Reply
    • Halo Rachel, panggilnya Dita aja yah.
      Aku kebetulan dapet info kursus ini dari kantorku. Kedubes India biasa nawarin program ini ke PNS. Aku kurang tau kalo bukan PNS bisa apa enggak, tapi coba deh tanya2 ke Kedubes India siapa tau mereka buka juga buat orang luar. Nama programnya ITEC. Mereka nawarin berbagai macam kursus dari Bahasa Inggris, MS Office, Web Designing, Networking, dsb.
      Prosedurnya karena aku PNS, ya musti ijin dari kantor dulu, terus endorse dokumennya ke Setneg, dari Setneg baru ke Kedubes. Abis itu wawancara sama Kedubes. Kalo mereka oke, ya udah proses keberangkatan deh.
      Kalo Mba Rachel bukan PNS, coba tanya2 Kedubes India aja yaaa…

      Reply
  2. Wah, Dita sekarang di India? \( ‘ o ‘ )/ Mantaaabbb XD Pengen deh ke India kayak di film Slumdog Millioner.. \(=w=)/ Fufufu… Ayo keliling dunia~! XD

    *bena*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: